Berjalan di Hutan



Pikiran kita sering terpaku pada apa-apa yang mengganggu. Bergumul dengan khawatir dan prasangka. Tenggelam dalam lorong gelap pikiran kita. Hilang kontak dengan sisi diri kita yang lebih terang.

Saat berjalan di dalam hutan, kita terpukau melihat indahnya cahaya di antara pepohonan; sinar matahari lembut tersaring oleh dahan dan dedaunan. Kita mulai memperhatikan detail: monyet-monyet bergantungan di batang pohon, burung berlompatan di dahan. Kita mulai melihat bentuk dan warna daun yang berbeda, ada yang runcing, bulat, lebar, sempit, hijau gelap atau agak merah. Kita jeda sejenak untuk melihat tanaman yang merambat di tanah—menyingkirkan dahan-dahan patah, buah-buah pinus, dan tumpukan daun kering, menemukan kumbang, cacing, ulat dan siput.

Saat kita mulai menaruh perhatian, alam seperti tersibak di hadapan kita. Lihat, seekor semut sedang memulai petualangan meniti ranting; putik di sebatang pohon sedang melalui proses menjadi bunga; seekor kupu-kupu sedang mengembangkan sayapnya untuk pertama kali; seekor cacing dengan lamban merentangkan badan di permukaan batu; seekor ulat sedang dalam perjalanan menuju makan siangnya di tepi seberang sehelai daun; seekor laba-laba sedang sibuk menyempurnakan sarangnya. Kita terbawa ke luar dari diri kita sendiri: kita terserap merenungkan alam yang rimbun.

Di depan ada jalan sempit berkelok di antara pepohonan. Kita tak bisa melihat lebih jauh daripada beberapa langkah ke depan. Kita tak pernah bisa menebak apa yang menanti di depan: mungkin kita akan tiba di lapangan terbuka atau akan bertemu monyet yang tengah melompat bersembunyi ke dalam semak-semak.

Di tengah itu semua, dalam pikiran kita kembali muncul rasa ingin tahu yang terpendam. Bagaimana kabar ibu yang sudah lama tidak ditelepon? Apa kabarnya keponakan yang baru melahirkan? Apa ya judul novel yang direkomendasikan teman di kantor kemarin? Nanti malam mau coba masak nasi kebuli, ah. Kayaknya tidak terlalu rumit..

Bukannya masalah kita tidak penting, hanya sangat mendominasi pikiran kita dengan cara yang tidak membantu. Kepekaan kita pada kehidupan, tentang siapa diri kita, jadi mengerut. Dengan menjadi tertarik pada sesuatu yang lain di alam terbuka, kita membebaskan diri dari keasyikan pada masalah kita sendiri—meski hanya untuk sejenak.

Ragam kehidupan yang kita temui di dalam hutan membuat kita untuk sementara berhenti memperhatikan hal lainnya. Insting mengamati kita jadi diperbarui. Kita akan kembali memasuki dunia urban dengan kepekaan yang berbeda. Kita jadi memperhatikan keramaian di warung sebelah; pada beragamnya kepribadian di sekeliling meja saat makan siang; pada detail arsitektur unik gedung di seberang jalan; pada keragaman dan kerumitan yang selama ini mungkin lupa untuk kita apresiasi.[]


(A creative translation of this article by Alain de Botton https://bit.ly/2nyA3Ns)

Beragama dengan Santai: Mimbar Selasar 2019


Mimbar Selasar semalam penuh. Ada anak-anak muda, para mahasiswa, orang-orang tua, para suster dan ibu-bapak dari lingkaran pertemanan seniman elite Bandung. Semua antusias ingin menyimak dua perempuan cerdas Sakdiyah Ma’ruf dan Yenny Wahid.

Pusing dan masuk angin yang mengganggu saya dalam perjalanan menuju Selasar Sunaryo perlahan larut dalam tawa saat mendengarkan penuturan stand-up comedian Sakdiyah Ma’ruf. Humornya getir mengajak kita mengkritisi dan menertawakan diri sendiri. Dia melempar humor tentang sikap beragama yang makin mengeras belakangan ini terutama di kelompok anak muda, tentang  kehidupan kelompok kaum muslim ekstrem yang intoleran dan tentang isu-isu perempuan.

Datang dari latar belakang keluarga keturunan Arab, kritiknya tentang tradisi di kalangannya sendiri pun tak kalah sengit. Hadirin tergelak dan terangguk-angguk, humornya membuat kritik lebih mudah diterima dan membukakan mata. Melalui humor banyak pesan yang bisa disampaikan jauh lebih efektif. Karena, humor mengeksploitasi pengalaman personal untuk merefleksikan sesuatu yang lebih besar.

Yenny Wahid lebih mendalam. Dia bicara soal sikap radikal dan fundamental dalam beragama bukan milik kelompok Islam saja. Di semua agama lain kelompok ini pun ada dan pola pikirnya hampir sama. Ada tiga ciri yang ditemukan di semua kelompok itu, kata Yenny, yaitu: anti-vaksin, penganut bumi datar, dan gampang mengkafir-kafirkan orang lain. Itu menunjukkan bahwa yang salah bukanlah ajaran agamanya, melainkan penafsiran manusia atas ajaran itu.

Kelompok radikal dan fundamental ini memiliki passion yang sangat besar untuk menjalankan misi mereka, sehingga mereka lebih terdengar dan dengan cepat menyebar di tengah masyarakat. Padahal kelompok moderat tak kalah banyak jumlahnya, namun kelompok ini lebih kalem dan tidak memiliki passion yang sama besarnya. Yenny mengajak kaum moderat untuk menjadi "noisy majority", bukan "silent majority." Ayo, berisiklah sedikit.

Pirous

Pertengahan tahun 2016, bersama teman-teman kantor, saya berkesempatan berkunjung ke rumah A.D. Pirous di kawasan Dago. Di antara pembicaraan yang berkesan dari beliau saat itu adalah ujaran yang saya lekatkan pada potret di bawah. Maksud dari ujaran terkutip itu adalah: jangan berhenti berkarya walaupun usia telah beranjak tua. Bukti nyatanya adalah beliau sendiri. Di usia 88 tahun, AD Pirous tetap produktif berkarya dan berpameran. Terus berkarya juga menjadikan Pak Pirous tampak sehat dan tidak pikun. Otak yang aktif akan menguatkan badan. Sangat menginspirasi.