MILK AND HONEY (by Rupi Kaur)

Anak saya yang minta dibeliin buku ini. Tapi entah kenapa dia ga jadi membacanya. Dibiarkan tergeletak di meja saya. Akhirnya saya yang baca, saat santai sebelum tidur semalam. Mungkin dia tidak suka melihat sketsa pertama yang dijumpainya. Bait puisi di tengah bukaan paha.


Ini buku puisi dan prosa pendek. Isinya curhat remaja. Catatan personal singkat-singkat, diimbuhi beberapa sketsa pensil di hampir setiap halaman. Banyak ruang kosong untuk menarik napas.
Lumayan ada kedalaman di beberapa tempat, tapi sebagian sangat besar adalah kegalauan remaja 
dalam urusan cinta, pergaulan sebaya, hubungan dengan orang tua (terutama ayah dengan anak perempuan), dan mau apa dengan hidupnya. 

Hal lain yang menarik bagi saya adalah bahwa buku ini pertama kali diterbitkan sendiri oleh Rupi Kaur pada November 2014, lalu segera menjadi best-seller memuncaki daftar buku terlaris di Amerika Utara. Akhirnya penerbit Andrews McMeel meliriknya dan menerbitkan kembali pada Oktober 2015. 

Dari blog penulisnya: 'milk and honey’ is the experience of violence. abuse. love. loss. femininity. the book is divided into four chapters. each chapter serves a different purpose. deals with a different pain. heals a different heartache. milk and honey takes readers through a journey of the most bitter moments in life and finds sweetness in them because there is sweetness everywhere if you are just willing to look.

Beberapa cuplikan:
"every time you
tell your daughter
you yell at her
out of love
you teach her to confuse
anger with kindness
which seems like a good idea
till she grows up to
trust men who hurt her
cause they look so much
like you
-- to fathers with daughters"
"we all move forward when
we recognize how resilient
and strong the women
around us are"
"your name is
the strongest
positive and negative
connotation in any language
it either lights me up or
leaves me aching for days"


Milk and Honey, by Rupi Kaur, Paperback, 208 pages, Andrews McMeel, July 2016

Moments of Mindfulness (Danielle & Olivier Föllmi)


Lima buku cantik ini adalah karya kolaborasi Daniela dan Olivier Föllmi. Kelimanya seperti pil penyegar buat saya. Saya sering membuka-buka buku ini secara acak sewaktu-waktu. Kadang saya membukanya untuk menikmati teksnya saja, kadang hanya untuk menikmati fotonya. Baik teks maupun fotonya seperti berbicara kepada saya dengan pesan dan kesan berbeda setiap kali, tergantung suasana hati dan pikiran saat membukanya.

Masing-masing buku dalam serial ini menyandingkan satu foto karya Olivier Föllmi dengan sepenggal teks kutipan sarat makna pilihan istrinya, Daniela. Foto dan teks memiliki tema selaras, dikelompokkan ke dalam lima tema: African Wisdom, Buddhist Offerings, Indian Wisdom, Latin Spirit, dan The Wisdom of Asia.


Setelah sekian bulan menikmatinya, saya bisa merasakan bahwa tiga di antara lima jliid buku ini lebih dekat di hati Föllmi dibanding dua lainnya. Foto-fotonya tampak lebih kuat, teks-teks pilihannya berisi lebih dahsyat. Pilihan dan urutan foto dan teks terasa digarap dengan lebih gembira. Ketiga jilid itu adalah Buddhist Offering, Indian Wisdom dan The Wisdom of Asia.


Ini wajar karena Föllmi memang lebih akrab dengan Asia daripada Amerika Latin dan Afrika. Selama lebih dari dua puluh tahun dia telah memotret di wilayah Himalaya, pernah tinggal dua tahun di India dan hidup bersama orang Tibet di pengasingan. Mereka bahkan mengambil dua anak angkat dari Tibet.




Bagi saya, berbeda dengan buku-buku foto lainnya, kelima jilid Moments of Mindfulness ini punya daya tarik yang kuat bukan hanya secara visual, tetapi juga spiritual. Satu-satunya buku foto yang belum berhenti saya nikmati setiap hari selama hampir enam bulan ini.[]







Atonement (Novel)





Menulis novel ternyata bisa dipilih sebagai jalan penebusan dosa bagi pengarangnya. Caranya, dengan memberikan akhir bahagia bagi dua kekasih yang tak dapat menggenapkan cinta mereka dalam kehidupan nyata lantaran kesalahan yang dibuat oleh si pengarang. Itulah yang dilakukan Briony, tokoh novelis dalam Atonement, karya Ian McEwan.

Ian McEwan barangkali tidak terlalu dikenal di Indonesia, karena sepertinya belum ada satu pun karyanya yang diterjemahkan di sini. Di Inggris dia bereputasi sebagai penulis fiksi yang gemar menampilkan kisah roman berbumbu kekerasan dengan orang-orang yang punya kelainan psikis dan paranoid (dalam novel pertamanya The Cement Garden (1978), misalnya, tokoh utamanya mengubur ibu kandungnya sendiri di bawah lantai kamar yang kemudian dilapisi semen). Atonement (2001) adalah novelnya yang kesembilan, mengeksplorasi tema keluarga, cinta, dan permaafan.

Novel ini dibagi ke dalam empat bagian. Bagian pertama berlangsung pada suatu hari di musim panas 1935. Bagian kedua dan ketiga di Prancis dan London semasa perang dunia kedua, dan bagian terakhir yang singkat berlatarkan London masa kini.

Bermula pada siang yang gerah ketika Briony, gadis berusia tiga belas tahun, menyaksikan sebuah adegan di taman antara kakaknya Cecilia dan Robbie, anak tukang kebun. Pikiran Briony yang imajinatif tidak dapat memahami sepenuhnya adegan dua orang dewasa yang dilihatnya dan mengakibatkan serangkaian reaksi berantai katastropik; yang memisahkan Cecilia dan Robbie—pasangan kekasih itu—dan membuat Briony hidup dengan memikul rasa bersalah sepanjang hayat.

Membaca bagian pertama ini membuat saya nyaris putus asa karena uraian yang sangat deskriptif, berbunga-bunga tentang karakter-karakter aristokrat Inggris, pemandangan alam, dan arsitektur tahun 1935. Peristiwa terasa berjalan lambat. Meski begitu  gaya menulis Ian McEwan yang elegan, indah, dengan mudah membangkitkan kegelisahan, rasa ingin tahu, menggiring masuk ke dalam pikiran, kenangan, deksripsi fisik, tanpa kehilangan relevansi dengan plotnya. Kalau bukan karena “janji” tentang sebuah konflik yang sudah disinggung sejak awal sekali, sangat mungkin saya akan batal membaca buku ini.

Novel ini telah difilmkan pada pada 2007, dibintangi oleh  James McAvoy, Keira Knightley,Benedict Cumberbatch. Ketika akan menonton film ini saya jadi ingin tahu sedalam apa kiranya film itu berhasil menyamai kemampuan Ian McEwan melukiskan karakter, seting dan isi pikiran tokoh-tokohnya. Karena dalam novelnya kita bisa tahu kesepian yang dirasakan Briony, kepolosan pikirannya, kebutuhannya akan perhatian, dorongannya untuk menulis cerita. Kita bisa tahu motifnya. Di dalam film, tindakannya muncul seperti kejahatan atau paling mungkin didorong kecemburuan semata. Bisa diduga, film gagal menampilkan kedalaman novelnya.




Peristiwa pada bagian pertama yang berlangsung dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam ini mengambil porsi hampir sepertiga panjang novel. Masuk ke bagian kedua, nada novel itu berubah tajam, rasanya seperti membaca novel yang berbeda—perubahan nada yang tiba-tiba ini juga terasa pada filmnya—dari suasana pinggiran London yang hijau, damai, sontak pindah ke medan peperangan Dunkirk 1940. Sangat kontras.

Setelah insiden pada musim panas itu, Cecilia dan Robbie hanya sempat bertemu kembali selama setengah jam sepanjang hidup mereka. Perjumpaan yang telah didahului oleh surat-surat, digambarkan secara liris oleh McEwan:


Robbie and Cecilia had been making love for years—by post. In their coded exchanges they had drawn close, but how artificial that closeness seemed now as they embarked on their small talk, their helpless catechism of polite query and response. As the distance opened up between them, they understood how far they had run ahead of themselves in their letters. This moment had been imagined and desired for too long, and could not measure up.


Robbie menemui ajal sehari sebelum evakuasi dari Dunkirk. Cecilia tewas dalam kecelakaan ledakan pipa di pengungsian bawah tanah. Mereka tak pernah bersatu kembali. Briony tak sempat mendapatkan maaf dari mereka.

Melalui kisah ini McEwan berhasil menunjukkan betapa tiadanya maaf merupakan hukuman terberat bagi sebuah kesalahan, bagaimana sebuah tindakan tak disengaja pada hari ini bisa mengakibatkan konsekuensi yang tak pernah dapat ditebus untuk selamanya. Setelah upaya revisi sekian kali, akhirnya Briony menuliskan novel ini untuk penebusan dosanya. Sebuah novel yang rumit, dengan penutup yang tak terduga.[]